Senin, 14 September 2015

Rindu

Tempat ini membawaku kepada kenangan sekitar dua tahun yang lalu. Entah kenapa, di hari libur kuliahku ini, langkahku menuju tempat yang telah lama tak aku jumpai. Jujur, aku jadi rindu tempat ini. Tempat yang mempunyai sejuta cerita yang hingga kini tak bisa aku lupakan. Aku menatap pada suatu titik sembarang di sudut sana, tatapanku tak dapat berpaling pada para remaja yang berseragam putih abu-abu itu, mereka sedang asyik bercanda gurau, ada pula laki-laki dan perempuan saling kejar-kejaran di koridor kelas. Aku menghembus napas berat. Ternyata benar, masa-masa SMA adalah masa yang paling indah.
Aku yang sedari tadi berdiri di depan gerbang sekolah, mencoba masuk dan menuju kantin sekolah ku dulu, saat aku masih sekolah disini aku sering kali datang ke kantin untuk meluangkan waktu istirahatku bersama teman-teman.
            Tak ada yang berubah dari kantin ini, masih berada di samping rumah pemilik kantin. Hanya saja sekarang lebih ramai, lebih luas dan lebih nyaman, mungkin karena siswa sekarang lebih banyak . Kata teman SMA ku, Teh Uci (pemilik kantin) juga belum berubah, masih gemuk dan tetap cantik. Aku tersenyum haru, tidak sabar ingin bertemu dengan teh Uci, suami dan anak-anak nya. Sudah dua tahun tidak berkunjung kesini membuat setumpuk rindu dan air mata tertahan.
            “Teh Uci……” teriakku memanggil dari luar rumahnya, aku kira Teh Uci berada di dalam rumah.  Kalau tidak ada di rumah berarti ada di sebelah atau berada di kantin.
            “Iya…” sahut Teh Uci. Ternyata wanita itu berada di kantin sambil membawa semangkuk mie instan pesanan siswa yang sudah menunggu di meja pojok sana. Setelah menaruh mangkok itu di atas meja, wanita itu menoleh ke arahku yang masih berdiri di depan pintu rumahnya. menatapku penuh selidik. Aku tersenyum ke arahnya.
            “Sofi?” ternyata Teh Uci masih mengenalku. Aku berlari sedikit menemuinya, meraih tanggannya dan segera menciumnya. Kemudian aku memeluknya erat, sambil meredam kesedihanku, kerinduanku, kebahagiaanku dan segala perasaanku yang akan berubah menjadi air mata. Aku redam semua itu. tenggorokanku pun sudah terasa perih menahannya.
            “Apa kabar Teh?” Kataku lirih dan masih memeluknya.
            “Baik. Baik… sofi apa kabar? Jarang banget mampir kesini. Bukan jarang lagi tapi udah gak pernah. Kemana aja atuh neng?”
            Aku melepas pelukan itu, saat ini aku ingin sekali menatap wajah wanita yang dulu selalu mendengar cerita-cerita dan keluh kesahku. Wanita yang menjadi peran dalam kenanganku selama tiga tahun, selama aku masih sekolah. Aku baru sadar ternyata langit di kota Bandung  semengharukan ini.
            “Aku baik teh. Iya sofi sibuk kuliah jadi gak pernah kesini lagi sehabis lulus sekolah.”
            “Yaudah, yuk kita ngobrol di rumah aja.” Ajaknya padaku.
            “kantin gimana teh? Ada yang jagain?” kataku khawatir.
            “Ada ,Kang Dedi.” Kang Dedi adalah suami Teh Uci, tadinya aku akan menemuinya tapi yang aku lihat Kang Dedi sibuk melayani para siswa yang mengantri. Aku membulatkan niat, Sehabis mengobrol dengan Teh Uci aku akan menemuinya.
            Aku langsung masuk ke dalam rumahnya yang sederhana itu. Aku duduk di sofa merah sambil mengatur napasku yang menahan tangis dari tadi. Teh Uci menuju dapur untuk mengambil minum untukku.
            “Nih di minum dulu” Segelas teh hangat di taruhnya di atas meja.
            “Aduh gak usah repot-repot teh, kayak ke tamu penting aja.” Ucapku. Teh Uci terkekeh.
            “Enggak apa-apa fi, sekarang kan kamu jadi tamu istimewa yang udah mampir ke rumah teteh.” Kami saling tersenyum. “Sok atuh di minum dulu. Maaf Cuma teh hangat saja” lanjutnya.
            “Iya enggak apa-apa teh” langsung aku menenguknya. Akhirnya tenggorokanku terasa segar kembali setelah kekeringan sejak tadi.
            “Sofi kesini sendirian?” Teh Uci mulai perbincangan.
            “Iya teh. Gak tau kenapa rasanya pengen banget dateng kesini sendirian sambil nostalgia masa SMA dulu.”
            “Hmm, kangen ya fi? Oh ya Zani apa kabar?”
            Zani? Nama itu? Ah, sudah ku duga. Bagi yang mengenalku, nama itu akan selalu di sebut atau selalu di tanyakan setiap bertemu denganku. Aku berusaha tersenyum di depan Teh Uci, berusaha bersikap biasa saja seperti tak ada bekas luka yang tertimbun di hati ini. aku menghela napas.
            “Baik.” Kataku singkat. Ya, Cukup itu yang aku jawab. Kabar dia baik kok, malah sangat baik walaupun aku yang masih belum pulih dari luka. Teh Uci tersenyum menatapku, seperti mengetahui apa yang aku rasakan.
            “Maaf, teteh jadi menanyakan soal Zani. Jujur, Teteh menyayangkan sekali hubungan kalian itu. Teteh tau kisah kasih kalian seperti apa tapi pada akhirnya harus jalan masing-masing sekarang.”
            “Loh, teteh tau tentang aku dan Zani sekarang?” Kataku kaget.
            “Ya tau lah, teteh tau dari teman-teman SMA mu dulu. mereka sering banget kesini. Ya, mereka banyak cerita ke teteh, tapi teteh enggak tau secara detailnya.”
            Mendengarnya, aku menunduk kemudian kepalaku terangkat lagi.  aku tak berkomentar apapun, hanya terpaksa untuk tersenyum di depan Teh Uci.
            Saat aku masih sekolah, bukan hanya sahabatku yang berperan, tapi Teh Uci juga. Tentang aku dan Zani. Oh ya, Zani, Laki-laki itu. Laki-laki sederhana yang aku cintai tanpa lelah, yang aku cintai tanpa bosan. Mulai dari kelas satu sampai lulus SMA, tentangku dan Zani tak ada akhirnya, kisah kasihnya berlika-liku tapi sangat indah. Keadaan kita berubah saat mulai kuliah, entah siapa yang salah, entah siapa yang harus disalahkan, pada nyatanya kita memang harus terpisah tengah jalan.
Ceritanya, siang hari saat masih sekolah, Zani datang padaku dan membawakan rangkaian permen yang  bungkusnya bertuliskan kata-kata romantic. Katanya jangan dimakan, tapi di pajang saja. Aku tertawa saat menerimanya, ada sepuluh permen yang Zani rangkai dari atas ke bawah menggunakan benang dan beberapa manik-manik untuk memperindah. Di paling atas, ia berikan cincin untuk menggantungkan benang itu. Dan ada sebuah benda berbentuk love, Zani gantungkan di paling bawah sebagai penutup. Aku menerimanya dengan senang hati, siapa yang tidak senang? itu hadiah terunik. Kalau orang lain memberikan kekasihnya boneka besar atau coklat mahal, Zani hanya sepuluh permen rangkaiannya sendiri. Menarik bukan?
Keesokan harinya, aku datang ke kantin saat istirahat dan bertemu Teh Uci. Tiba-tiba Teh uci bercerita tentang Zani, katanya beberapa hari yang lalu Zani datang ke kantin dan membeli beberapa permen yang hanya bertuliskan romantic. Zani kewalahan mencari permen itu satu persatu akhirnya Teh Uci bantu mencarinya. Zani bilang pada Teh Uci, kalau permen-permen itu akan di berikan pada bidadarinya, Sofi. Aku tersenyum mendengar kabar itu. bahagia, terharu , entahlah campur aduk.
Terdengar geli memang  tapi Zani adalah laki-laki sederhana yang dapat meyakinkan bahwa cinta itu indah. Ia tak pernah memberikan barang mewah atau mahal, tapi ia bisa membuat sesuatu yang tak dapat di jual kepada siapapun.
“Teh Uci..…” Kataku lirih setelah kenangan bersama Zani berputar mengelilingi otakku.  Tiba-tiba ada yang jatuh dari pelupuk mataku dan mendarat di pipiku.
“Kenapa Sofi?” Teh Uci sontak kaget melihat aku yang tiba-tiba menangis.
“Aku rindu Zani teh.” Teh Uci mendekatiku, dan mengusap pelan pundakku. “Ini sudah satu tahun perpisahan aku dan Zani, tapi aku selalu merindunya, perasaanku belum juga berubah teh. Padahal aku tau, Zani gak seperti dulu lagi.” Lanjutku. Aku tak dapat menahan bendungan air mataku, sampai akhirnya aku terpaksa menangis dalam pelukan Teh uci. Ini sungguh menyakitkan.
“Sabar ya. Teteh tau perasaan kamu fi, teteh juga tau kisah cinta kalian. Dari kalian berantem lalu baikan lagi. Dulu, setiap kali Zani datang ke kantin pasti dia bercerita tentang kamu. Saat kamu sakit dan gak masuk sekolah, Zani sangat merindukan kamu. Saat kalian berantem, dia bilang kalau dia marah sama kamu, tapi akan tetap mencintai kamu. Teteh yakin Zani gak semudah itu melupakan kamu sofi, walaupun berjejer perempuan yang Zani sukai sekarang, tapi dia akan sadar siapa perempuan pertama yang pernah ia cinta” katanya panjang lebar. Teh Uci tetap mengelus-elus pundakku, berusaha menenangkan kesedihanku.
“Kenapa Zani berubah teh, bukankah dulu ia sangat mencintaiku? Dia juga tidak mau kehilanganku, tapi kenapa saat itu dengan sangat mudah dia meninggalkanku tanpa perasaan, tanpa bisa melihat kalau aku sangat terluka.” Sungai kecil yang di bentuk dari tadi masih saja mengalir bahkan lebih deras di pipiku.
“Sofi,,, Allah yang menciptakan perasaan itu. Allah yang membolak-balikkan. Kalau Zani adalah milik kamu, dia akan kembali.” Aku terdiam sejenak, mencerna semua perkataan Teh Uci padaku.
“Teh, boleh aku memelukmu lagi?”
“Boleh” katanya pelan. Aku langsung memeluk tubuhnya erat, dengan seribu air mata kesedihan dan kerinduan,  dengan seribu api luka yang belum padam dan dengan cinta yang belum terselesaikan di hatiku.
“Aku rindu Zani….”
Laki-laki sederhana yang meyakinkan bahwa cinta itu indah …


Sabtu, 02 Mei 2015

Setelah Kamu Pergi (2)

Mungkin ini rencana Tuhan, kamu datang ketika aku tak memperdulikanmu lagi. kamu datang dengan membawa sebuah perasaan yang sulit kutebak. Aku mencoba gali perasaanku ketika kamu tanya bagaimana perasaanku sekarang, tak kutemukan. Aku sudah terbiasa tanpamu. Tapi entah mengapa, pada akhirnya kita menjadi mesra kembali yang kita hanyalah teman. Aku tak tahu manis pahitnya dikemudian hari.
Selang beberapa bulan, aku menikmatinya, rasanya begitu manis seperti awal kita berjumpa. Kamu ucapkan kata-kata hangat yang membuat ada sesuatu yang tumbuh lagi dalam perasaanku. Aku mencoba menahannya, tapi semakin kamu manis semakin sesuatu itu tumbuh. Apakah aku mencintainya lagi?
Perhatian yang aku tunggu selama satu tahun, kasih sayang yang rindukan selama itu, datang lagi ketika kita bukan siapa-siapa. Itu menjadi sebuah pertanyaan yang besar dalam hati. Kenapa kamu datang ketika keadaan seperti ini? Kemana saat kita masih mengikat?. Ah entahlah, ini misteri.
Manisnya  sikapmu membuat aku yakin, aku mencintaimu lagi setelah aku hampir berhasil melupakanmu. Ini perasaan yang salah. Tapi dengan ini kita masih baik-baik saja, hingga aku yakin kamu memiliki perasaan yang sama. Berbalas SMS atau BBM , sudah menjadi rutinitas kita pada saat itu, dan di hari libur kuliah, kita gunakan waktu itu untuk jalan berdua, sama seperti tahun lalu saat kita masih bersama.
Hati yang sudah kokoh lagi akan cinta, harus runtuh lagi karena luka. Luka yang membuat aku berfikir keras bagaimana lagi untuk mengobatinya. Melupakanmu untuk kedua kalinya tak semudah saat itu, ini lebih sulit dan lebih menyakitkan.



Saat aku ketahui, kamu jatuh cinta dengan orang lain, ada yang begitu sesak di dada. Ada hati yang tak tertolong. Melihat kamu tertawa, sadarkah kamu bahwa aku tak bisa sepertimu? Ternyata hatimu bisa berpaling saat keadaan kita begitu manis. Kenapa aku tak bisa sepertimu?
Setelah hal itu ku ketahui, aku berusaha untuk tak membalas semua pesan singkatmu, menjauh saat kita bertemu. Aku tak mau cinta ini semakin dalam, mencinta saat kamu mencintai orang lain dan berusaha untuk mendapatkan hatinya. Bodoh. Mengapa cinta yang hilang harus tumbuh lagi? Hanya karena sikap manis yang masih teka-teki.
Kamu tahu, usaha melupakanmu saat ini lebih sulit. Bayangmu makin mengikat dalam hati dan fikiran. Rindu ini makin mencekam. Aku hanya bisa tersenyum dari kejauhan, aku hanya tahu kabarmu dari sorot mataku yang tak kamu ketahui, aku melihatmu diam-diam. Menjauh adalah hal yang terbaik untuk kulakukan. Tak perlu dekat untuk mengetahui kabarmu, sambil bersembunyi aku masih bisa menatap wajahmu yang tersenyum, walaupun senyuman itu bukan untukku lagi.


Setelah Kamu Pergi




Sehari setelah kamu pergi, aku masih membisu, hanya mata ini yang terus berbicara bahwa aku tak sanggup. Air mata yang tak ada habisnya untuk jatuh, bagaimana hatiku selamat ketika kamu ucapkan selamat tinggal. Kata yang paling aku benci untuk ku dengar, kata yang inginku buang jauh diantara kita, dan akhirnya, kata itu terucap dengan mudahnya dari bibirmu.
Dua hari setelah kamu pergi, dengan air mata ini aku berharap kamu kan datang kembali. Kamu memelukku, mengusap air mataku dan katakan bahwa hari kemarin itu hanyalah mimpi. Tapi hingga kutunggu satu minggu, tak ada yang berubah, tak ada yang terucap dari bibirmu, kamu benar menghilang.
Kamu tak tahu rapuhnya aku saat itu, ketika aku sudah berada di puncak seperti yang kamu inginkan, kamu jatuhkan aku hingga jurang yang paling dasar. Kamu tak tahu bagaimana rasanya menjadi aku, ketika aku berulang kali memperbaiki bangunan kita yang roboh, kamu terus meruntuhkannya. Seharusnya saat itu aku sadar, bahwa kamu tak ingin aku pertahankan.
Setelah aku sadar untuk beberapa lama, selamat tinggal adalah hal yang sebenarnya terbaik untukku. Tak perlu lagi aku menunggu kabarmu dari aku terbangun hingga tertidur lagi, tak perlu lagi aku menangisi sikapmu yang menganggapku tak ada, dan tak perlu lagi aku memupuki perasaan dengan rasa sakit ketika kamu lebih mesra dengan orang lain dibanding aku.




Perasaanku sedikit demi sedikit hilang dengan sendirinya. Senyumku mengembang lagi setelah setahun kamu acuhkan aku, bukan paksaan. Aku lebih bahagia saat ini, menjalani hidup sendiri, bukan neraka seperti yang difikirkan. Betapa tak ada beban, ketika kita harus kehilangan seseorang yang memang tak pantas untuk dipertahankan. Masih banyak seseorang yang masih menunggu dengan beribu keperduliannya. Bukan hanya dia, dia yang menurut kita paling istimewa, akan tiba saatnya seseorang akan kita anggap sempurna. 
Terimakasih, pernah mengijinkanku tuk masuk ke dalam duniamu yang begitu indah, dunia yang belum sebahagia ketika bersamamu. Kamu telah memberiku pemanis ketika hidupku dirundung pahit, kamu telah menjadi obat dari semua masalahku. Tiga tahun bersamamu, tak akan terlupakan.

Dariku untukmu yang terindah J