Tempat ini
membawaku kepada kenangan sekitar dua tahun yang lalu. Entah kenapa, di hari
libur kuliahku ini, langkahku menuju tempat yang telah lama tak aku jumpai.
Jujur, aku jadi rindu tempat ini. Tempat yang mempunyai sejuta cerita yang
hingga kini tak bisa aku lupakan. Aku menatap pada suatu titik sembarang di
sudut sana, tatapanku tak dapat berpaling pada para remaja yang berseragam
putih abu-abu itu, mereka sedang asyik bercanda gurau, ada pula laki-laki dan
perempuan saling kejar-kejaran di koridor kelas. Aku menghembus napas berat.
Ternyata benar, masa-masa SMA adalah masa yang paling indah.
Aku yang
sedari tadi berdiri di depan gerbang sekolah, mencoba masuk dan menuju kantin
sekolah ku dulu, saat aku masih sekolah disini aku sering kali datang ke kantin
untuk meluangkan waktu istirahatku bersama teman-teman.
Tak
ada yang berubah dari kantin ini, masih berada di samping rumah pemilik kantin.
Hanya saja sekarang lebih ramai, lebih luas dan lebih nyaman, mungkin karena
siswa sekarang lebih banyak . Kata teman SMA ku, Teh Uci (pemilik kantin) juga
belum berubah, masih gemuk dan tetap cantik. Aku tersenyum haru, tidak sabar
ingin bertemu dengan teh Uci, suami dan anak-anak nya. Sudah dua tahun tidak
berkunjung kesini membuat setumpuk rindu dan air mata tertahan.
“Teh
Uci……” teriakku memanggil dari luar rumahnya, aku kira Teh Uci berada di dalam
rumah. Kalau tidak ada di rumah berarti
ada di sebelah atau berada di kantin.
“Iya…”
sahut Teh Uci. Ternyata wanita itu berada di kantin sambil membawa semangkuk
mie instan pesanan siswa yang sudah menunggu di meja pojok sana. Setelah
menaruh mangkok itu di atas meja, wanita itu menoleh ke arahku yang masih
berdiri di depan pintu rumahnya. menatapku penuh selidik. Aku tersenyum ke
arahnya.
“Sofi?”
ternyata Teh Uci masih mengenalku. Aku berlari sedikit menemuinya, meraih
tanggannya dan segera menciumnya. Kemudian aku memeluknya erat, sambil meredam
kesedihanku, kerinduanku, kebahagiaanku dan segala perasaanku yang akan berubah
menjadi air mata. Aku redam semua itu. tenggorokanku pun sudah terasa perih
menahannya.
“Apa
kabar Teh?” Kataku lirih dan masih memeluknya.
“Baik.
Baik… sofi apa kabar? Jarang banget mampir kesini. Bukan jarang lagi tapi udah
gak pernah. Kemana aja atuh neng?”
Aku
melepas pelukan itu, saat ini aku ingin sekali menatap wajah wanita yang dulu
selalu mendengar cerita-cerita dan keluh kesahku. Wanita yang menjadi peran
dalam kenanganku selama tiga tahun, selama aku masih sekolah. Aku baru sadar
ternyata langit di kota Bandung semengharukan ini.
“Aku
baik teh. Iya sofi sibuk kuliah jadi gak pernah kesini lagi sehabis lulus
sekolah.”
“Yaudah,
yuk kita ngobrol di rumah aja.” Ajaknya padaku.
“kantin
gimana teh? Ada yang jagain?” kataku khawatir.
“Ada
,Kang Dedi.” Kang Dedi adalah suami Teh Uci, tadinya aku akan menemuinya tapi
yang aku lihat Kang Dedi sibuk melayani para siswa yang mengantri. Aku
membulatkan niat, Sehabis mengobrol dengan Teh Uci aku akan menemuinya.
Aku
langsung masuk ke dalam rumahnya yang sederhana itu. Aku duduk di sofa merah
sambil mengatur napasku yang menahan tangis dari tadi. Teh Uci menuju dapur
untuk mengambil minum untukku.
“Nih
di minum dulu” Segelas teh hangat di taruhnya di atas meja.
“Aduh
gak usah repot-repot teh, kayak ke tamu penting aja.” Ucapku. Teh Uci terkekeh.
“Enggak
apa-apa fi, sekarang kan kamu jadi tamu istimewa yang udah mampir ke rumah
teteh.” Kami saling tersenyum. “Sok atuh di minum dulu. Maaf Cuma teh
hangat saja” lanjutnya.
“Iya
enggak apa-apa teh” langsung aku menenguknya. Akhirnya tenggorokanku terasa
segar kembali setelah kekeringan sejak tadi.
“Sofi
kesini sendirian?” Teh Uci mulai perbincangan.
“Iya
teh. Gak tau kenapa rasanya pengen banget dateng kesini sendirian sambil
nostalgia masa SMA dulu.”
“Hmm,
kangen ya fi? Oh ya Zani apa kabar?”
Zani?
Nama itu? Ah, sudah ku duga. Bagi yang mengenalku, nama itu akan selalu di
sebut atau selalu di tanyakan setiap bertemu denganku. Aku berusaha tersenyum
di depan Teh Uci, berusaha bersikap biasa saja seperti tak ada bekas luka yang
tertimbun di hati ini. aku menghela napas.
“Baik.”
Kataku singkat. Ya, Cukup itu yang aku jawab. Kabar dia baik kok, malah sangat
baik walaupun aku yang masih belum pulih dari luka. Teh Uci tersenyum
menatapku, seperti mengetahui apa yang aku rasakan.
“Maaf,
teteh jadi menanyakan soal Zani. Jujur, Teteh menyayangkan sekali hubungan
kalian itu. Teteh tau kisah kasih kalian seperti apa tapi pada akhirnya harus
jalan masing-masing sekarang.”
“Loh,
teteh tau tentang aku dan Zani sekarang?” Kataku kaget.
“Ya
tau lah, teteh tau dari teman-teman SMA mu dulu. mereka sering banget kesini.
Ya, mereka banyak cerita ke teteh, tapi teteh enggak tau secara detailnya.”
Mendengarnya,
aku menunduk kemudian kepalaku terangkat lagi.
aku tak berkomentar apapun, hanya terpaksa untuk tersenyum di depan Teh
Uci.
Saat
aku masih sekolah, bukan hanya sahabatku yang berperan, tapi Teh Uci juga. Tentang
aku dan Zani. Oh ya, Zani, Laki-laki itu. Laki-laki sederhana yang aku cintai
tanpa lelah, yang aku cintai tanpa bosan. Mulai dari kelas satu sampai lulus
SMA, tentangku dan Zani tak ada akhirnya, kisah kasihnya berlika-liku tapi
sangat indah. Keadaan kita berubah saat mulai kuliah, entah siapa yang salah,
entah siapa yang harus disalahkan, pada nyatanya kita memang harus terpisah
tengah jalan.
Ceritanya,
siang hari saat masih sekolah, Zani datang padaku dan membawakan rangkaian
permen yang bungkusnya bertuliskan
kata-kata romantic. Katanya jangan dimakan, tapi di pajang saja. Aku tertawa
saat menerimanya, ada sepuluh permen yang Zani rangkai dari atas ke bawah
menggunakan benang dan beberapa manik-manik untuk memperindah. Di paling atas,
ia berikan cincin untuk menggantungkan benang itu. Dan ada sebuah benda
berbentuk love, Zani gantungkan di paling bawah sebagai penutup. Aku
menerimanya dengan senang hati, siapa yang tidak senang? itu hadiah terunik.
Kalau orang lain memberikan kekasihnya boneka besar atau coklat mahal, Zani
hanya sepuluh permen rangkaiannya sendiri. Menarik bukan?
Keesokan
harinya, aku datang ke kantin saat istirahat dan bertemu Teh Uci. Tiba-tiba Teh
uci bercerita tentang Zani, katanya beberapa hari yang lalu Zani datang ke
kantin dan membeli beberapa permen yang hanya bertuliskan romantic. Zani
kewalahan mencari permen itu satu persatu akhirnya Teh Uci bantu mencarinya. Zani
bilang pada Teh Uci, kalau permen-permen itu akan di berikan pada bidadarinya,
Sofi. Aku tersenyum mendengar kabar itu. bahagia, terharu , entahlah campur
aduk.
Terdengar geli
memang tapi Zani adalah laki-laki
sederhana yang dapat meyakinkan bahwa cinta itu indah. Ia tak pernah memberikan
barang mewah atau mahal, tapi ia bisa membuat sesuatu yang tak dapat di jual
kepada siapapun.
“Teh Uci..…”
Kataku lirih setelah kenangan bersama Zani berputar mengelilingi otakku. Tiba-tiba ada yang jatuh dari pelupuk mataku
dan mendarat di pipiku.
“Kenapa
Sofi?” Teh Uci sontak kaget melihat aku yang tiba-tiba menangis.
“Aku rindu Zani
teh.” Teh Uci mendekatiku, dan mengusap pelan pundakku. “Ini sudah satu tahun
perpisahan aku dan Zani, tapi aku selalu merindunya, perasaanku belum juga
berubah teh. Padahal aku tau, Zani gak seperti dulu lagi.” Lanjutku. Aku tak
dapat menahan bendungan air mataku, sampai akhirnya aku terpaksa menangis dalam
pelukan Teh uci. Ini sungguh menyakitkan.
“Sabar ya. Teteh
tau perasaan kamu fi, teteh juga tau kisah cinta kalian. Dari kalian berantem
lalu baikan lagi. Dulu, setiap kali Zani datang ke kantin pasti dia bercerita
tentang kamu. Saat kamu sakit dan gak masuk sekolah, Zani sangat merindukan
kamu. Saat kalian berantem, dia bilang kalau dia marah sama kamu, tapi akan
tetap mencintai kamu. Teteh yakin Zani gak semudah itu melupakan kamu sofi, walaupun
berjejer perempuan yang Zani sukai sekarang, tapi dia akan sadar siapa perempuan
pertama yang pernah ia cinta” katanya panjang lebar. Teh Uci tetap
mengelus-elus pundakku, berusaha menenangkan kesedihanku.
“Kenapa Zani
berubah teh, bukankah dulu ia sangat mencintaiku? Dia juga tidak mau
kehilanganku, tapi kenapa saat itu dengan sangat mudah dia meninggalkanku tanpa
perasaan, tanpa bisa melihat kalau aku sangat terluka.” Sungai kecil yang di
bentuk dari tadi masih saja mengalir bahkan lebih deras di pipiku.
“Sofi,,,
Allah yang menciptakan perasaan itu. Allah yang membolak-balikkan. Kalau Zani
adalah milik kamu, dia akan kembali.” Aku terdiam sejenak, mencerna semua
perkataan Teh Uci padaku.
“Teh, boleh
aku memelukmu lagi?”
“Boleh”
katanya pelan. Aku langsung memeluk tubuhnya erat, dengan seribu air mata
kesedihan dan kerinduan, dengan seribu
api luka yang belum padam dan dengan cinta yang belum terselesaikan di hatiku.
“Aku rindu Zani….”
Laki-laki
sederhana yang meyakinkan bahwa cinta itu indah …


